Pahlawan Wanita Indonesia Pahlawan Nasional - Maria Wandala Maramis

pahlawan wanita indonesia
pahlawan nasional
pahlawan underrated

Sinergi Indonesia –  pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated Maria Walanda Maramis
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated
pahlawan wanita indonesia pahlawan nasional pahlawan underrated

Maria Walanda Maramis, Pahlawan Nasional yang Jarang Diketahui

Maria Walanda Maramis merupakan seorang wanita yang memperjuangkan kemajuan dan emansipasi wanita dalam dunia pendidikan dan politik. Jasa beliau tidak banyak diketahui orang Indonesia, tetapi masyarakat Minahasa memperingati hari ibu Maria Wanda Maramis setiap tanggal 1 Desember. Beliau dianggap pendobrak adat, serta perjuangan wanita di dunia politik dan pendidikan.

Menurut Nicholaas Graafland, dalam sebuah penerbitan “Nederlandsche Zendeling Genootschap” tahun 1981, Maria ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki “bakat istimewa untuk menangkap mengenai apapun juga dan untuk mengembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki”.

Untuk mengenang jasanya, telah dibangun Patung Walanda Maramis yang terletak di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang, sekitar 15 menit dari pusat Kota Manado yang dapat ditempuh dengan angkutan darat.

Masa Kecil Maria

Maria Walanda Maramis lahir pada tanggal 1 Desember 1972, di Kema, sebuah desa kecil yang sekarang berada di kabupaten Minahasa Utara, Kecamatan Kema (hasil pemekaran Kecamatan Kauditan) provinsi Sulawesi Utara.
Lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis. Maria lahir di keluarga yang sederhana, dari pasangan Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu. Semasa kecil, Maria menghabiskan sebagian besar waktunya di Minahasa Utara. Maria sendiri merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya bernama Andries dan kakak perempuannya bernama Antje. 

Kakak laki-laki Maria, Andries, adalah ayah dari Alexander Andries Maramis (nama pertama dan tengah dibalik) atau lebih dikenal sebagai A. A. Maramis. A. A. Maramis sendiri juga seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional. A. A. Maramis pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama.

Kehidupan Maria baik-baik saja, hingga sebuah wabah bernama kolera datang merenggut nyawa kedua orang tuanya pada saat Maria berusia 6 tahun. Maria dan kedua saudara kandungnya kemudian dibesarkan oleh pamannya, Mayor Ezau Rotinsulu.

Paman Maria, Mayor Ezau Rotinsulu, yang waktu itu adalah kepala distrik di Maumbi membawa Maria dan saudara-saudaranya ke Maumbi dan mengasuh dan membesarkan mereka di sana. Dari kepindahan itu, ia juga berteman dengan kaum terpelajar misalnya seorang pendeta bernama Jan Ten Hoeve.

Pendidikan

Maria dan kakak perempuannya, yaitu Antje dimasukkan ke Sekolah Melayu atau Sekolah Desa oleh Pamannya. Sementara itu, Kakak Maria yaitu Andries dimasukkan oleh Pamannya ke sekolah Raja (hoofdenscool) di Tondano. Siswa di sekolah Raja tersebut mempelajari lebih banyak ilmu pengetahuan daripada siswa Sekolah Desa. Lulusan sekolah itu juga diharapkan akan menduduki jabatan dalam pemerintahan pribumi.

Saat itu, akses pendidikan tinggi untuk perempuan Minahasa sangat tertutup, hanya ada Sekolah Rendah Belanda. Sekolah itu pun hanya dibuka untuk perempuan berkebangsaan Belanda.

Perbedaan kesempatan dalam bidang pendidikan antara Maria Walanda dengan Kakaknya Andires, menimbulkan banyak pertanyaan dalam pikiran Maria. Maria Walanda merasa pendidikan yang dilakukannya di Sekolah Desa tidak membuat dirinya berkembang.

Adat Minahasa memaksa kaum perempuan harus menolong mengerjakan urusan rumah tangga seperti belajar memasak, menjahit, mencuci, dan menggosok pakaian. Saat laki-laki boleh mengenyam pendidikan, sementara perempuan harus belajar di dapur, Maria merasa keadaan seperti ini merupakan ketidakadilan bagi kaum perempuan.

Pahlawan Wanita Indonesia Pahlawan Nasional - Maria Wandala Maramis

Bergerak Demi Perubahan

Pada usianya yang ke-18, Maria dilamar Jozef Frederik Calusung Walanda, seorang guru yang menempuh pendidikan di Ambon. Jozef merupakan suami yang suportif dan mendorong kemauan Maria untuk belajar. Sejak menikah dengan Jozef, nama Maria menjadi Maria Walanda Maramis.

Jozef mengajari Maria bahasa Belanda dan membelikan buku-buku yang penting. Maria mulai berpikir untuk membebaskan kaum perempuan dari cengkeraman adat yang tidak menguntungkan dan dari pola pendidikan Belanda. Pada 8 Juli 1917, Maria berhasil mendirikan perkumpulan perempuan yang diberi nama Percintaan Ibu kepada Anak Temurunnya, yang bila disingkat menjadi PIKAT.

Tujuan organisasi ini adalah untuk mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar. Lebih spesifik, tujuan dari organisasi ini adalah:

  1. Menyediakan suatu waktu bagi kaum perempuan Minahasa agar mereka dapat saling bergaul dan mengenal
  2. Membawa masa depan pemuda Minahasa
  3. Membiasakan para perempuan Minahasa untuk mengeluarkan dan merumuskan pandangan-pandangan serta pikiran-pikirannya secara bebas.

Melalui kepemimpinan Maria di dalam PIKAT, organisasi ini bertumbuh dengan dimulainya cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling. Selain itu, cabang di luar Minahasa antara lain di Sangir Talaut (Sangihe-Talaud), Poso, Gorontalo, dan Ujung Pandang. Cabang-cabang di Jawa juga terbentuk oleh ibu-ibu di sana seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Pada tanggal 2 Juni 1918, PIKAT membuka sekolah Manado. Di sekolah ini mereka diajari hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

Di luar gemerlap kehidupan kaum kolonial, rasa nasionalisme Maria tumbuh. Teman-temannya dianjurkan untuk sebisa mungkin menggunakan bahasa Melayu ketika berpidato atau bercakap-cakap dengan orang asing. Maria juga selalu memakai pakaian daerah, kain, dan kebaya putih. Kepada banyak orang, berkali-kali ia mengatakan, “Pertahankan bangsamu.”

Pahlawan Wanita Indonesia Pahlawan Nasional - Maria Wandala Maramis

Memperjuangkan Hak Pilih Wanita di Minahasa

Maria juga memperjuangkan agar perempuan diberi suara dalam urusan kenegaraan serta diberi tempat di Dewan Kota. Perjuangannya menyangkut vrouwenkiesrecht, hak pilih dan dipilih bagi perempuan. Ia menulis banyak artikel tentang ini yang dimuat di koran setempat.

Pada tahun 1919, sebuah badan perwakilan dibentuk di Minahasa dengan nama Minahasa Raad. Mulanya anggota-anggotanya ditentukan, tetapi pemilihan oleh rakyat direncanakan untuk memilih wakil-wakil rakyat selanjutnya. Hanya laki-laki yang bisa menjadi anggota pada waktu itu, tetapi Maria berusaha supaya wanita juga memilih wakil-wakil yang akan duduk di dalam badan perwakilan tersebut. 

Usahanya berhasil, pada 1921 datang keputusan dari Batavia yang memperbolehkan perempuan memberi suara dalam pemilihan anggota Minahasa Raad. Setelah itu, kondisi fisik Maria menurun. Ia meninggal karena sakit pada 22 April 1924 dalam usia 52 tahun.

Setelah Maria berpulang, banyak kemajuan yang dicapai bangsa kita, khususnya yang menyangkut perwujudan cita-citanya. PIKAT maju pesat. Pada 1930-an, tidak hanya dapat memberikan suara saja, apa yang diperjuangkan Maria untuk kaum perempuan agar memperoleh hak di bidang politik membuahkan hasil yang lebih besar lagi. Berkat upayanya, kaum perempuan dapat dipilih menjadi anggota di badan-badan perwakilan rakyat saat itu, termasuk Minahasa Raad, Locale Raad, juga Gemeentse Raad. Maria diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969.

Untuk menghargai peranannya dalam pengembangan keadaan wanita di Indonesia, Maria Walanda Maramis mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *